Drs. Monang Simanjuntak soal SIGAPITON: "Politik akan menjadi JALAN KESELAMATAN ketika dilakoni sebagai policy yang berkebijakan.
Menyikapi apa yang terjadi di Sigapiton Tapanuli Utara, dimana beberapa Ibu katanya sampai telanjang datang memperjuangkan hak-hak ulayat (adat) mereka, tokoh adat yang di kenal dengan komentar-komentar pedas nya ini kemudian menanggapi santai saja. Ia justru melihat bahwa hal seperti ini sudah biasa di negeri ini belakangan, dan bahwa ada aktor intelektual di balik kejadian ini. Menyusul akan ada nya Pemilihan Kepala Daerah (PILKADA) di mana nama-nama Balon (Bakal Calon) sudah santer tersiar di beberapa media sosial, salah satu pejabat Badan Otorita Danau Toba (dalam kasus Sigapiton, Badan ini tentu menjadi pihak yang sedang di demo) yaitu Ir. Basar Simanjuntak, MSc memang sudah memastikan diri dan mendaftar ikut dalam bursa persaingan ini. Nama-nama lain sebagai Bakal Calon Bupati dan Calon Bupati pun sudah banyak yang memproklamirkan diri dengan banyak statement-statement sosial baik di media sosial maupun secara langsung di daerah Toba. Bahkan kabarnya salah satu mantan birokrat Ibu Kota yang adalah putera daerah (Batak) pun ikut pula meramaikan pilihan saat ini.
OGMB : "Bagaimana tanggapan Bapak atas kejadian yang viral baru-baru ini di Sigapiton, Ajibata itu?"
Drs. Monang Simanjuntak : "Begini ya...Ketika etika dan estetika tidak lagi ada, maka saya lebih suka memilih idiom Preeett sebagai pilihan diksi yang paling tepat kepada orang-orang yg tidak bisa melihat aksi-aksi bugil disana yang katanya adalah desa adat."
OGMB : "Tapi bukankah ini memang adalah hal prinsip yang sudah semestinya di baca oleh pemerintah dalam mempersiapkan dan membangun infrastruktur di daerah-daerah seperti ini Pak?"
Drs. Monang Simanjuntak : "Wilayah saya ada di Moral Hazard Cultural, soal aksi teatrikal instalasi... adalah bidang yang saya geluti dan tentu saja saya sangat memahami hal-hal seperti ini, dan kita juga tentu sama-sama sadar bahwa ada nilai yang harus menjadi misi dibalik sebuah aksi teatrikal ini. Soal nilai ini di kampung kita (Toba) tentu juga yang harus lebih kita ke depan-kan terkait dengan edukasi lingkungan sosial dan alam setempat. Jujur saja, saya sudah melakukan observasi dengan beberapa natuatua/ tokoh adat di huta (kampung:red) soal aksi ini... Dan mereka semua miris serta prihatin. Mari kita hargai diri kita sendiri... Mari juga kita tanyakan bathin dengan lebih kontemplatif dan tolonglah lupakan dulu interest dalam tanda kutip yah..dan konten-konten yg lebih bersifat politik ekonomi di belakangnya."
OGMB : "Oh...Apakah bapak dan tokoh-tokoh adat yang bapak sebutkan tadi memang melihat ada nya nuansa politis dari komentar-komentar serta tanggapan orang saat ini?"
Drs. Monang Simanjuntak : "Oh iya tentu saja. Untuk urusan konten inipun, sebenarnya menurut saya..ya silahkan untuk sedikit lebih bijak dengan melakukan kontak pada para pihak yang lebih berkompeten dalam mengurus hal ini. Nah sekarang ini ada itu saya dengar siapa itu namanya..hmm..Celaka menurut saya kalau ada seorang bakal calon bupati Tobasa disana yang..hm setahu saya dia ini mantan birokrat DKI , nah celaka kalau ada orang seperti ini tidak lagi bisa bijak untuk berpijak kepada aturan baku yang sudah tercanangkan tentang status lahan. Karena status nya sebagai bakal calon.... nah dia tiba-tiba membuat pendapat-pendapat yang cuma melihat dari satu sisi saja serta menjurus kepada tujuan aksi dan memberi legitimasi terhadap cara yang disamping amoral juga menista entitas budaya sendiri. Ini kan persoalan tak lagi menghargai diri sendiri dan lingkungan sebagai diri ? Sebuah tindakan tak berjiwa..... aksi teatrikal akan terlihat berjiwa dari ekspresi pelakonnya. Betapa mereka (Ibu-Ibu ini:red) , ini kan ito-ito saya (saudara perempuan:red) saya lihat itu emm..sangat canggung dan kikuk dalam melakoninya.... tak di jiwainya dan tentu saja menjadi sumir".
OGMB : "Tapi.. Tidak kah aksi teatrikal ..kalau benar itu adalah aksi teatrikal..Bukan kah aksi seperti ini pasti sulit di lakukan oleh orang-orang biasa Pak?"
Drs. Monang Simanjuntak : "Lho justru karena itu saya katakan tadi sumir kan? Hahaha... Melakoni aksi teatrikal seperti ini bukanlah hal mudah... levelnya harus orang-orang berkesenian minimal anak-anak IKJ( Istitut Kesenian Jakarta) atau paling tidak anak didik Teater Koma. Nah coba lihat Ibu-Ibu yang kemarin. Bagaimana mereka terlihat kikuk dan canggung? Karena itu bukan budaya kita sebenarnya dan pasti ekspresi mereka gampang untuk di baca. Bukan begitu?. Makanya saya katakan tadi..Bahwa ada kesumiran dibalik aksi ini betapa sangat mudah utk mengetahuinya.".
OGMB : " Terimakasih atas kesempatan bincang-bincang kali ini Pak..."

Komentar
Posting Komentar