Menilik Kebijaksanaan Pemimpin Apabila Di Tilik Dari Konsep Batak Dalihan Na Tolu
Tingkat kesuksesan, kemakmuran dan persatuan suatu negara atau kerajaan , suku, komunitas bahkan satuan satuan keluarga kecil, sangat di tentukan oleh cara pandang pemimpinnya terhadap amanah yang ia emban. Hal ini tak dapat pungkiri merupakan fakta yang dapat di lihat bahkan dengan kaca mata awam sekalipun.
Tercatat sepanjang sejarah, beberapa pemimpin muncul dari generasi ke generasi masing masing dengan cara pandang yang berbeda beda satu sama lain mengenai hal ini. Bagaimana mereka memandang amanah yang ia emban sesungguhnya dapat di lihat dari cara mereka menghasilkan kebijakan yang berkaitan dengan hajat hidup orang orang yang mereka pimpin. Apakah mereka benar benar perduli atau sekedar "lip service" pada saat berpidato, atau hanya mabuk kehormatan semata. Namun banyak yang tak dapat membaca ini dan kadang menganggap bahwa kebijakan yang gagal tak semata hanya karena pemimpinnya bodoh atau kurang cakap. Menurut beberapa orang hal ini bisa juga di sebabkan oleh kebijakan kebijakan itu kan bukan hasil pemikiran pemimpin itu semata. Banyak faktor yang memang mempengaruhi termasuk para pembisik dan penasihat di samping iklim situasional yang memang berubah ubah.
Tetapi sesungguhnya ada cara yang mudah melihat ini terutama apabila kita berkaca pada pengalaman 2 pemimpin terakhir di negara ini. Susilo Bambang Yudhoyono dan Ir. Joko Widodo. Yang satu tampil dengan gestur Raja Diraja mirip Sultan yang dalam bahasa batak mungkin boleh dikatakan dengan istilah "Raja Na Mamboto Pature Parhundulna". Saat Raja benaran Indonesia ini berbicara, dan ada seorang hadirin berbisik pada teman di sebelahnya.. malapetaka bisa timbul. Terakhir media Indonesia pernah meliput betapa marahnya beliau ketika keagungannya di gugat karena preseden yang di sebutkan di atas terjadi. Tapi sejujurnya meski tampak demikian di takuti, banyak masyarakat yang ia pimpin kemudian sangat muak dengan gestur arogansi presiden ke-6 Indonesia ini. Ia bahkan meninggalkan banyak warisan cerita buruk termasuk dalam persoalan HAM.
Berbeda dengan SBY, presiden selanjutnya (Ir.Joko Widodo) justru tak pernah mengatur "parhundul"nya ketika berhadapan dengan orang orang yang ia pimpin. Kesan kasih yang dalam justru tampak nyata dari gestur tubuhnya bahkan ketika sebagian dari orang orang yangbia pimpin menghina dirinya. Duduk di kedai kopi, lesehan atau bahkan KRL bukanlah sesuatu yang aneh dari keseharian "Raja" yang di hina dengan sebutan Raja Petruk oleh para aristokrat dan bangsawan nigrat di negara ini. Kira kira dalam bahasa batak istilahnya menurut mereka Jokowi ini adalah "Raja na Paraja-rajahon ma". Dang di boto pature parhundulna.. Dan mungkin itulah yang akan di sebut Fadli Zon kalau ia bisa berbahasa batak, karena ia merasa sangat terhina Presiden duduk membaur tanpa batas dengan rakyat sementara ia mengenakan setelan jas mentereng dan mengkilap dengan singgasana sewangi bunga di Senayan.
Untunglah dia bukan orang batak.. Karena dalam "habatahon" istilah Raja na paraja-rajahon sangat aneh apabila di tinjau dari Konsep Dalihan Na Tolu yang menjadi falsafah dan dasar adat budaya batak. Seseorang yang disini mungkin adalah raja harus bisa berperan sebagai boru di tempat lain,, atau seorang boru disini bisa menikmati sebagai seorang raja di tempat lain. Konsep ini membuat seorang boru tahu apa yang ia harus ia lakukan pada Rajanya karena ia juga berharap tindakan borunya di tempat lain sama dengan yang ia lakukan di sini...
Sebagai salah seorang generasi muda Batak, sudah sesungguhnya kita bangga memiliki warisan konsep yang bahkan lebih hebat dari trias politica yang di anut oleh negara dengan system pemerintahan Monarki atau pun negara dengan system presidensial.
Salut..
Ttd
Generasi Muda Batak

Komentar
Posting Komentar