ADAT DAN BUDAYA BATAK. TER-SAYANG...TER-MALANG

Kemarin, merupakan pengalaman berharga bisa melihat langsung sebuah acara adat yang paling dasar dilaksanakan. Namun sungguh menyentak menyaksikan bahwa beberapa pihak yang harus nya tampil dan berbicara dalam perannya sebagai RAJA RAJA menunjukkan gestur justru sebagai seniman dan entertainer... Ada beberapa momen sakral berubah menjadi seperti sebuah pertunjukan "stand-up comedy". Suasana hening dan "pantun" sekarang justru terlihat segar dan menghibur.. Tak satu, dua atau tiga kali reaksi hadirin yang terlihat bukannya bersikap menunduk atau mengangguk-angguk takzim tapi justru "geerrr nya berantakan" meminjam istilah para juri di acara kompetisi stand up comedy di sebuah acara televisi swasta nasional....
Berkali-kali muncul keresahan dan protes tentang bagaimana adat batak dijalankan tidak lagi bernafaskan filosofi asli dari apa yang di ajarkan ompung ompung si jolo jolo tubu. Berkali kali pula ada sikap kritis tentang bagaimana adat itu sudah di jauhi kalau tidak bisa di katakan di tinggalkan oleh generasi mudanya. Namun lagi lagi, pembahasan apapun tentang hal ini seringkali hanya tinggal pembahasan semata.. Tanpa konklusi apalagi solusi..
Sebenarnya....
Apa yang membuat sebuah tatanan sosial, kepercayaan, hukum, aturan adat dan filosofi pendidikan turun temurun dari sebuah suku, ras dan bangsa bisa runtuh, tergerus bahkan hilang di telan pergeseran zaman dan kemajuan peradaban?
Dari pandangan dan perfektif yang jujur mungkin saja hal ini di picu oleh beberapa sebab ini :
1. Masyarakat yang memegang dan mengamalkannya terlalu cepat menyerap kebuyaan asing dan baru untuk di adopsi menjadi sebuah gaya hidup.
2. Pandangan kerdil dari sebagian masyarakat yang menganggap tatanan sosial tersebut sangat tidak sesuai dengan kondisi zaman dan pada akhirnya harus di improvisasi di kritisi bahkan kalau perlu di revisi...
3. Putusnya komunikasi antar generasi yang biasanya selalu berperan menjaga otentifikasi tatanan tersebut dan menjadi benteng pertahanan dari upaya masyarakat lain (dulu biasanya di lakukan oleh penjajah dan kini sering dimainkan peranannya oleh politik dan pemerintah) mengintervensi pelaksanaan baku dari tatanan itu.
4. Hilang nya integritas dan atensi dari pihak pihak intelektualis pada masyarakat tersebut dalam mempertahankan originalitas dari tatanan tersebut. Hal mana seringkali di sebabkan oleh pertimbangan politis karena friksi yang timbul oleh dis-orientasi intelektualis terhadap kepentingan kepentingan tatanan sosial, adat dan budaya bila berhadapan dengan kepentingan kepentingan regional (conflict of interest)
5. Perlahan namun pasti para tokoh budaya adat dan sosial kehilangan pengaruh mereka seiring meningkatnya pengaruh tokoh tokoh agama dan kepercayaan baru yang masuk..
6. Dalam kondisi ini seringkali muncul pihak pihak yang "SIPANGGARON" yang kesannya seperti perduli dan resah namun pada akhirnya lebih kepada pamer dan riya... Pride terhadap kemampuan berbicara dan memainkan seni berbicara dan akhirnya mabuk terhadap pujian dan sanjungan. Dan munculnya mereka justru menambah buruk situasi...

Apapun tanggapan terhadap tulisan ini,,baik Negatif maupun Positif... Semoga semua pihak sadar dengan kritis nya kondisi saat ini bila berbicara tentang masa depan budaya dan adat batak kebanggaan kita semua....

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Drs. Monang Simanjuntak soal SIGAPITON: "Politik akan menjadi JALAN KESELAMATAN ketika dilakoni sebagai policy yang berkebijakan.

Menilik Kebijaksanaan Pemimpin Apabila Di Tilik Dari Konsep Batak Dalihan Na Tolu

SESUATU YANG LEBIH MULIA DARIPADA NAMA