SEBUAH PERJUANGAN YANG BELUM BERAKHIR

Dalam banyak diskusi,, sesi berdialog maupun monolog,, di even-even adat,, ayahandaku Ir. Sahala Simanjuntak selalu berbicara tentang adat batak, latar belakang dan sejarahnya. Banyak yang kagum, tak sedikit pula yang jadi lawan diskusi dan adu argumentasi karena beda pemahaman dengan beliau.
Tetapi di akhir hayatnya, semua serentak memuji ke-aktifannya di dalam memerhatikan budaya batak terutama melihat jabatan yang terakhir di embannya yaitu Ketua Dewan Kesenian Batak. Berita pertama tentang wafatnya bahkan di ungkapkan dengan kata-kata yang membesarkan hati kami sebagai anak-anaknya. "Seorang Pemerhati Budaya Batak Yang Popuper Di Dunia Maya"
Tapi tak banyak sebenarnya yang memahami betul apa yang ayahanda kami perjuangkan terutama mendekati akhir hayatnya. Apa sebenarnya keresahan yang beliau rasakan di balik semua ativitas nya di bidang ini?
SEBUAH PERJUANGAN YANG BELUM BERAKHIR
Ayahanda memahami betul, dewasa ini generasi muda batak telah terpecah menjadi 3 golongan yang solid dan sulit terbantahkan keyakinannya. Pertama adalah golongan PATRIARKHIS, mereka yang masih memegang teguh nilai nilai adat dan budaya batak, mempelajari dan mengamalkannya dalam semua sendi kehidupan mereka. Golongan ini terbilang sangat sedikit. Yang kedua adalah golongan INTELEKTUALIS, mereka yang masih mengikuti tatanan adat dan budaya batak namun hanya sebagai rutinitas belaka karena golongan ini sangat di pengaruhi alam fikirannya oleh golongan ketiga yaitu golongan AGAMIS. Golongan ini biasanya muncul dari generasi yang kemudian menjadi sangat religius secara ekstrim-biasanya karena menemukan keyakinan baru di agama agama yang bisa di katakan telah melakukan reformasi besar besaran dalam ajarannya. Terpecahnya generasi ini seiring perkembangan zaman tanpa di sadari, telah membuat adat batak terpinggirkan arti dan nilainya karena di pahami hanya sebagai identitas dan peneguhan silsilah belaka. Mengapa? Gerakan masif dan penyebaran keyakinan baru dari golongan ketiga seringkali telah mendiskreditkan upacara upacara, detail dari adat batak itu dengan berusaha meyakinkan khalayak ramai melalui cerita sejarah animisme di masyarakat primitif batak dahulu kala, bahwa hampir semuanya dipengaruhi oleh keyakinan mistis dari animisme tersebut. Meskipun sejatinya tidak semua generasi muda batak percaya sepenuhnya dan memakan informasi dan presentasi tidak langsung ini, sedikit banyak harus di akui bahwa hal ini memang telah menghambat generasi muda me-respek adat dan budaya nya sendiri, dan karena itu mempersulit dan menghilangkan minat mereka mempelajari apalagi memegang teguh nilai nilai luhur dari adat batak itu sendiri.
Karena menyadari hal ini, dalam sebuah presentasi di salah satu televisi swasta nasional di tahun 2015 lalu, ayahanda begitu gigih melakukan klarifikasi terkait soal ini. Sesi demi sesi wawancara dengan reporter televisi tersebut, ia selalu menekankan betapa dekat masyarakat adat batak dengan TUHAN melalui semua ritual adat yang mereka kerjakan. Secara detail, ia menerangkan apa sebenarnya fungsi ulos, apa itu acara martonggo, mengapa harus ada tor-tor yang di iringi gondang dan alat musik tradisional lainnya.. Apa makna gorga atau tulisan yang tertera pada rumah adat batak, apa sebenarnya yang di miliki para datu sehingga mampu meramal, apa yang mendasari ramalan mereka dan lain lain. Begitu gigihnya ayahanda ku seorang diri di penghujung hayatnya memperjuangkan dan mempertahankan eksistensi adat dan budaya batak agar tak tergerus oleh gerakan masif generasi golongan kedua dan ketiga yang disebutkan di atas yang karena mengatas namakan agama kemudian telah menuduh adat dan budaya batak tidak berdasar agama dan kepercayaan pada TUHAN.
Betapa membanggakan namun cukup memilukan, sampai nafas terakhir, ia masih menekankan arti dari perjuangannya... TOR-TOR bukan hanya gerakan semata, ia ADALAH BAGIAN DARI DOA!
Semoga generasi selanjutnya dapat menangkap makna dari perjuangannya, terlebih lagi akan sangat membuat beliau bangga apabila perjuangannya di teruskan...
Komentar
Posting Komentar