Alm. Ir. Sahala Dongan Konseptianus Simanjuntak : TOR-TOR ADALAH BAGIAN DARIPADA DOA
Kalimat terakhir yang di ucapkan Alm. Ayahanda Ir. Sahala Simanjuntak yang kemudian menjadi viral di dunia maya.
Apakah kalimat ini berlebihan? Atau hanya berdasarkan suasana kebatinan
semata tanpa bekal pengetahuan sejarah dan pengalaman spiritual
pribadi?
Sebelum sampai pada highlight yang kini sangat di perhatikan oleh banyak pihak ini, mari kita ingat kata-kata lain dari Almarhum di detik detik sebelum ia menghembuskan nafas terakhirnya :
“Sekarang istilah Tor-Tor sudah menjadi rancu karena sembarang gerakan
mengikuti alunan musik pun selalu di sebut dengan Tor-Tor..”
Mengapa
beliau sampai menjadi gusar dengan kondisi ini? Fakta sesungguhnya,
seiring dengan perkembangan zaman,Tor-Tor telah beralih makna dan fungsi
menjadi sekedar tarian hiburan belaka. Meskipun masih dalam konteks
mempertahankan budaya, karena kerancuan yang di maksud beliau ini, tentu
saja nilai nilai luhur yang terkandung di dalamnya menjadi sangat
luntur dan pada gilirannya keadaan ini telah menggerus rasa hormat dan
respek terhadap keberadaan Tor Tor itu sendiri dan terhadap para pelaku
inti yang mendukung adanya gerakan ritual di dalam Tor-Tor. Mengacu pada
pendapat seorang tokoh pemerhati budaya batak yang juga adalah seorang
Independent Civil & Social Organization Professional Bapak Monang
Naipospos, dan oleh Bapak Togarma Naibaho yang adalah pendiri Sanggar
Budaya Batak GORGA, sebelum memulai suatu acara atau pelaksanaan adat
biasanya gondang (musik) di minta terlebih dahulu. Permintaan ini juga
disampaikan dengan bahasa santun berupa umpasa (pantun Batak). Setelah
gondang diminta, barulah acara manortor dimulai. Karena ritual ini, para
pemusik atau pargocci ini seringkali di beri gelar-gelar kebesaran
seperti Datu Guru Humundul, Parogung Oloan, Penggora Sukkot Dilangit,
Parsoara Tandos Tu Tano, Parsarune Sitombus Dolok dan lain sebagainya.
Sayangnya yang terjadi belakangan justru sangat berbeda, dimana
panggilan atau gelar-gelar ini malah di pelesetkan dan terkesan di
lecehkan dengan panggilan panggilan lain seperti : Parloppan Na Tabo dan
lain sebagainya,
Melihat sekilas pada alat musik yang sangat
terstruktur dan memang membutuhkan keahlian khusus tentu saja panggilan
panggilan ini tidak berlebihan dan memang memiliki latar belakang
filosophy yang sangat dalam. Alat yang digunakan adalah Ogung
Sabangunan yang terdiri dari 4 ogung, dan lazim dilengkapi dengan alat
musik bernama Hesek, Taganing Dan Sarune.
Dalam manorotor, tahapan gondang (musik) yang diminta biasanya adalah :
1. Gondang Mula-Mula
2. Gondang Domba
3. Gondang Mangaliat
4. Gondang Simonang-Monang
5. Gondang Sibunga-jambu
6.Gondang Marhusip...dan seterusnya
Dan diakhiri dengan Gondang Hasahatan Sitio-tio.
Secara garis besar, terdapat empat gerakan dalam tortor.
1.Pangurdot, gerakan yang dilakukan kaki, tumit sampai bahu.
2.Pangeal, merupakan gerakan yang dilakukan pinggang, tulang punggung sampai bahu/sasap.
3.Pandenggal, yakni gerakan tangan, telapak tangan dan jari-jarinya.
4.Siangkupna yakni menggerakan bagian leher.
Jadi bukan hanya sekedar gerakan menari dan melompat lompat tak karuan.
Tak dapat di pungkiri, pengaruh yang sangat besar dari gerakan
ke-agamaan dan berke-TUHAN-an secara ekstrim dari banyak generasi muda
Batak saat ini turut pula berperan besar memproduksi kondisi apatis
terhadap budaya batak yang sesungguhnya berakar kuat pada rasa ke TUHAN
an masyarakat batak dalam sejarah perkembangannya. Namun melalui
kampanye tidak langsung, telah di diskreditkan berasal dari ke kafiran
dan kepercayaan animisme. Perdebatan selanjutnya terhadap keadaan ini,
gerakan membela diri, mempertahankan eksistensi nya oleh beberapa tokoh
seperti Alm. Ir.Sahala Simanjuntak, Monang Naipospos, Togarma Naibaho
(beberapa bagian dari penjelasan dan informasi yang di muat pada tulisan ini mengutip penjelasan dan informasi dari nama-nama yang di sebutkan melalui webpage dan situ situs pribadi mereka) dan banyak tokoh lainnya seringkali menjadi sangat sulit karena di
serang sebagai Primordialisme dalam konteks negative. Meskipun dengan
berbagai cara dan keterangan mereka telah melakukan klarifikasi yang
sangat giat sehubungan dengan hal ini. Klarifikasi yang di lakukan Alm.
ayahanda Ir. Sahala Simanjuntak di pertengahan tahun 2015 pada sebuah
televise swasta nasional misalnya. Ia menyebut bahwa kemampuan datu
dalam meramal, yang biasanya di serang sebagai kepercayaan mistis
animisme, sesungguhnya berdasarkan pengalaman spiritual yang sangat
dalam terhadap pengenalan mereka akan alam. Kejadian berulang dari alam
membuat mereka dapat memprediksi dengan sangat akurat apa yang
selanjutnya akan terjadi. Melalui kesempatan yang sama ia kemudian juga
menerangkan apa yang di tuliskkan oleh para Pande Gorga di rumah rumah
adat Batak yang masih dapat kita lihat sampai sekarang adalah doa kepada
Sang Pencipta agar orang yang ada di dalam rumah selalu sehat dan di
lindungi. Penjelasan Bapak Togarma Naibaho pada National Geograhic
Indonesia bahkan lebih specific terhadap ungkapan Alm.Ir Sahala
Simanjuntak sehubungan dengan fungsi sebenarnya dari Tor Tor dalam
budaya Batak.
Menurut beliau ada 4 (Empat) jenis gerakan Tor-Tor
yang memilki arti sangat dalam dan fungsi yang sangat jelas dalam
pelaksanaannya yang JAUH SEKALI DARI FUNGSI MISTIS.
1. Tortor
Pangurason (tari pembersihan), yang biasanya digelar pada pesta besar.
Sebelum pesta dimulai, tempat dan lokasi terlebih dahulu dibersihkan
agar jauh dari mara bahaya. 2. Tortor Sipitu Cawan (Tari tujuh cawan).
Tari ini biasa digelar pada saat pengukuhan seorang raja.
3. Tortor
Tunggal Panaluan, yang biasanya digelar apabila suatu desa dilanda
musibah, maka tunggal panaluan ditarikan oleh para dukun untuk mendapat
petunjuk mengatasi musibah dimaksud.
4.Tortor Sigale-gale yang
dilakonkan sebuah patung kayu yang menggambarkan rasa cinta seorang raja
terhadap anak tunggalnya yang meninggal akibat penyakit.
Dalam setiap jenis-jenis tortor itu, ada tiga pesan utama yang ingin disampaikan.
Pertama, TAKUT DAN TAAT PADA TUHAN PENCIPTA ALAM. Itulah sebabnya,
sebelum tari dimulai, harus ada musik persembahan pada Tuhan Yang Maha
Esa. Kedua, pesan ritual untuk PENGHORMATAN LELUHUR DAN ORANG-ORANG YANG
MASIH HIDUP. Dan ketiga, PESAN UNTUK KHALAYAK RAMAI YANG HADIR DALAM
UPACARA.
Dengan memperhatikan semua fakta ini, betapa dalam makna
dan nilai nilai luhur yang terkandung dalam adat serta BUDAYA Batak.
Tidak berlebihan jika semua generasi muda Batak pada khususnya mau
memberikan perhatian dan kecintaannya terutama karena perkembangan zaman
telah membuktikan dapat menggerusnya sampai hilang sama sekali dari
permukaan bumi ini….
Tulisan yang jauh dari sempurna dan tidak
merupakan kebenaran ini (karena kebenaran yang hakiki hanya milik TUHAN
semata), hanya bertujuan menghimbau semua generasi muda Batak turut
berperan serta melanjutkan perjuangan mereka yang di sebutkan di atas.
Upaya mereka yang gigih akan jadi sangat sia-sia apabila kita semua tak
bersedia membuka mata dan hati terhadap panggilan yang sudah
berkali-kali mereka serukan ini.

Komentar
Posting Komentar