HOAX-BUKAN UNTUK INDONESIA

Daniel Simanjuntak, SSP
==============================================


Menjelaskan dalam tulisan sebelumnya,  jelas dan terang benderang bahwa Hoax memang di luncurkan oleh beberapa politisi dengan tujuan memenangkan pertarungan politik dalam sebuah negara menjelang terjadi nya peristiwa elektoral seperti Pemilihan Presiden atau Legislatif.
Dalam hal ini, pada tulisan sebelumnya telah di jelaskan bagaimana itu sangat efektif bekerja.
Namun beberapa mengkhawatirkan akan ada dampak yang lebih buruk karena Hoax ini.
Adanya kepentingan lain menunggangi, yang ingin menghancurkan sebuah negara dengan tujuan terselubung. Hal ini sangat santer di ucapkan oleh beberapa politisi dan pemerhati politik di negara ini. Mereka khawatir,  apa yang di alami oleh Suriah bisa saja ikut terjadi di negara ini.
Mengacu pada penjelasan politisi PDIP,  Budiman Sudjatmiko,  Hoax di goreng untuk mengolah emosi dari rakyat. Membuat stress dan depresi berkepanjangan yang pada gilirannya akan berhasil membuat sebagian besar masyarakat berubah menjadi apatis terhadap apa yang terjadi dengan masa depan negeri ini.  Persis seperti Suriah,  para politisi ini khawatir Hoax demi Hoax akan membakar emosi rakyat yang lelah mendengar perbedaan,  hasutan dan pemutar-balikan fakta. Pada tingkat ini,  seperti halnya Suriah,  tingkat Dis-Obedience (Ketidak-patuhan)  rakyat akan meningkat,  membesar dan meledak menjadi sebuah pemberontakan.
Namun,  sebenarnya dapat di harapkan Indonesia tidak akan sama dengan Suriah. Ada fakta intangible (tidak terlihat) yang lolos dari perhatian para politisi seperti Budiman Sudjatmiko.
Guna mengukur faktor intangible ini dari sebuah negara, lembaga riset Gallup secara rutin menggelar Global Emotions Report. Riset ini mengukur tingkat emosi positif (termasuk rasa bahagia dan sikap positif lainnya) atau emosi negatif (khawatir, marah, dan lainnya) harian warga dari 148 negara. Data ini menggambarkan warga negara mana yang paling sering tertawa dan yang kurang bahagia.
Berdasarkan laporan yang dilansir pertengahan Juli 2016 ini diketahui, kebanyakan negara yang menempati posisi teratas berasal dari Amerika Latin. Penelitian ini sudah digelar sejak tahun 2015. Responden ditanyakan mengenai lima indikator kebahagiaan, seperti bisa istirahat cukup, merasa dihormati oleh orang lain, senyum atau tertawa, belajar hal baru, dan rasa nyaman.
Berikut 10 negara yang memiliki emosi positif menurut penelitian Gallup:
1. Paraguay
2. Guatemala
3. Honduras
4. Uzbekistan
5. Ekuador
6. El Salvador
7. Indonesia
8. Kosta Rika
9. Uruguay
10. Kolombia
Kebalikannya, 10 negara berikut ini memiliki nilai emosi negatif tertinggi:
1. Irak
2. Iran
3. Sudan Selatan
4. Suriah
5. Siprus
6. Liberia
7. Togo
8. Sierra Leone
9. Bolivia
10. Portugal
Dalam laporannya, Gallup mengatakan beberapa indikator emosi negatif dalam penilaiannya meliputi rasa khawatir, kesedihan, stres, marah, dan rasa sakit fisik.
Bisa di lihat,  apa alasan Indonesia akan berbeda dengan Suriah bukan?  Kedua masyarakat nya ada dalam kelompok yang berbeda tingkat emosinya... Sekedar Hoax saja tak akan membuat negara ini hancur lebur. Dengan tingkat emosi positif yang kita punya,  akan ada lebih banyak masyarakat yang berfikir jernih dan tidak akan terpancing dengan segala macam isu,  meski itu isu agama sekalipun. Pada gilirannya para produsen Hoax ini akan mengerti dan gigit jari. Hoax-Bukan untuk Indonesia..
Semoga fakta ini dapat menjadi dasar bagi kita semua berharap positif,  bahwa negara ini akan selamat dan jauh dari pertikaian apalagi perang akibat di obok-obok dengan issue agama seperti sekarang...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Drs. Monang Simanjuntak soal SIGAPITON: "Politik akan menjadi JALAN KESELAMATAN ketika dilakoni sebagai policy yang berkebijakan.

Menilik Kebijaksanaan Pemimpin Apabila Di Tilik Dari Konsep Batak Dalihan Na Tolu

SESUATU YANG LEBIH MULIA DARIPADA NAMA