KRITIKAN RECEH
Annual Meetings International Monetery Fund (IMF) 2018 yang di gelar
pada tanggal 12-14 Oktober lalu di Bali Indonesia baru saja usai. Ada
banyak kejadian unik yang belakangan muncul sebagai "gorengan" media
sosial dan itu terlihat lebih seksi untuk di pelototin oleh netizen
daripada output Gelaran Event Tahunan itu sendiri...
Di antara nya adalah metafora "Winter is coming" dan "The Game of Throne" yang di gunakan oleh Presiden Joko Widodo dalam pidatonya untuk meng-analogikan keadaan zaman kini yang cukup memprihatinkan dan menuntut kita semua bertindak cepat. Juga menghimbau kita untuk berhati-hati agar tidak tergoda pada sifat keserakahan yang menghancurkan peradaban. Sampai di sini semua berdecak kagum... bahkan President World Bank sempat bilang, "Mendengar pidato Presiden Jokowi sayatak tahu lagi untuk apa saya di sini. Kita semua tak mungkin menyampaikan sesuatu yang lebih hebat lagi".
Yang menggelitik adalah kritikan receh yang di sampaikan pihak seberang... "Itukan draft yang di tulis orang lain dan tinggal di bacakan saja? Presiden Jokowi mana punya literasi sehebat itu selain daripada daftar nama nama ikan? " ck.. ck.. ck... Enam Presiden sebelumnya punya sekretaris (makanya ada MENSESNEG) kok baru sekarang persoalan Juru tulis ini menjadi aib? Tetapi positifnya adalah mereka tanpa sadar turut mengakui pidato itu memang benar-benar hebat. Ini jadi sama dengan pengakuan kekaguman mereka terhadap show spectakuler yang ada pada pembukaan Asian Games dimana Jokowi terbang pakai Moge tapi mempersoalkan siapa stuntman nya... Hahahaha
Hal receh lainnya adalah kejadian pada saat sesi photo di akhir acara... Managing Director IMF Christine Lagarde membuat tanda victory dengan jarinya dan dengan bercanda Sri Mulyani menerangkan kalau Victory itu berarti jari tangannya harus 2 dan itu adalah nomor pencalonan Prabowo, sementara kalau dengan jari telunjuk saja itu berarti nomor satu, nomor pencalonan Jokowi di PILPRES 2019. Semua pohon dimana kampret bergelantungan langsung goncang. Pasalnya, secara tidak sengaja persis pada saat Sri Mulyani menerangkan ini, microphone di meja menyala tiba-tiba. Bahkan karena moment ini Timses Prabowo-Sandi berencana menggugat ke Bawaslu. Hhhhh..... Di satu sisi ini adalah persoalan sepele, soal canda mereka pada waktu mengatur pose berfoto. Di sisi lain, tentu saja moment yang tidak kurang dari 15 detik ini du anggap sebagai persoalan besar bagi kubu sebelah. Mereka lupa, mereka yang di terangkan itu bukan calon pemilih di negara ini, dan yang menerangkan itu hanyalah Menteri Kabinet Jokowi bukan Timses Kampanye Jokowi sebagai Calon Presiden... Hahahaa...
Hal lainnya, apakah Menteri Sri Mulyani itu salah menerangkan kepada Christine Lagarde? Tidak bukan? Yang jadi persoalan, di moment itu suara Sri Mulyani terdengar karena accident microphone yang menyala tiba-tiba.. Lantas, mau memperkarakan Mic atau operator mic nya? Hadddehhhhh.....
Salam Waras lagi lah...
Di antara nya adalah metafora "Winter is coming" dan "The Game of Throne" yang di gunakan oleh Presiden Joko Widodo dalam pidatonya untuk meng-analogikan keadaan zaman kini yang cukup memprihatinkan dan menuntut kita semua bertindak cepat. Juga menghimbau kita untuk berhati-hati agar tidak tergoda pada sifat keserakahan yang menghancurkan peradaban. Sampai di sini semua berdecak kagum... bahkan President World Bank sempat bilang, "Mendengar pidato Presiden Jokowi sayatak tahu lagi untuk apa saya di sini. Kita semua tak mungkin menyampaikan sesuatu yang lebih hebat lagi".
Yang menggelitik adalah kritikan receh yang di sampaikan pihak seberang... "Itukan draft yang di tulis orang lain dan tinggal di bacakan saja? Presiden Jokowi mana punya literasi sehebat itu selain daripada daftar nama nama ikan? " ck.. ck.. ck... Enam Presiden sebelumnya punya sekretaris (makanya ada MENSESNEG) kok baru sekarang persoalan Juru tulis ini menjadi aib? Tetapi positifnya adalah mereka tanpa sadar turut mengakui pidato itu memang benar-benar hebat. Ini jadi sama dengan pengakuan kekaguman mereka terhadap show spectakuler yang ada pada pembukaan Asian Games dimana Jokowi terbang pakai Moge tapi mempersoalkan siapa stuntman nya... Hahahaha
Hal receh lainnya adalah kejadian pada saat sesi photo di akhir acara... Managing Director IMF Christine Lagarde membuat tanda victory dengan jarinya dan dengan bercanda Sri Mulyani menerangkan kalau Victory itu berarti jari tangannya harus 2 dan itu adalah nomor pencalonan Prabowo, sementara kalau dengan jari telunjuk saja itu berarti nomor satu, nomor pencalonan Jokowi di PILPRES 2019. Semua pohon dimana kampret bergelantungan langsung goncang. Pasalnya, secara tidak sengaja persis pada saat Sri Mulyani menerangkan ini, microphone di meja menyala tiba-tiba. Bahkan karena moment ini Timses Prabowo-Sandi berencana menggugat ke Bawaslu. Hhhhh..... Di satu sisi ini adalah persoalan sepele, soal canda mereka pada waktu mengatur pose berfoto. Di sisi lain, tentu saja moment yang tidak kurang dari 15 detik ini du anggap sebagai persoalan besar bagi kubu sebelah. Mereka lupa, mereka yang di terangkan itu bukan calon pemilih di negara ini, dan yang menerangkan itu hanyalah Menteri Kabinet Jokowi bukan Timses Kampanye Jokowi sebagai Calon Presiden... Hahahaa...
Hal lainnya, apakah Menteri Sri Mulyani itu salah menerangkan kepada Christine Lagarde? Tidak bukan? Yang jadi persoalan, di moment itu suara Sri Mulyani terdengar karena accident microphone yang menyala tiba-tiba.. Lantas, mau memperkarakan Mic atau operator mic nya? Hadddehhhhh.....
Salam Waras lagi lah...

Komentar
Posting Komentar