PEMIMPIN YANG SUKA MERENUNG
Apa yang membuat seorang pemimpin bisa menjadi seorang yang bijaksana?
Apakah kepintarannya? Kekuatannya? Popularitas atau Elektabilitasnya?
Tidak....!!! Sejarah membuktikan para pemimpin dunia di kenang dan di sanjung karena mampu memahami dengan jelas, apa yang ingin dan harus ia capai; mengetahui dengan tepat apa yang mesti ia lakukan untuk mencapainya; dan memiliki keterampilan untuk mengatur pelaksanaannya... Sebaliknya mereka yang gagal dan belakangan di kutuk oleh rakyatnya adalah mereka yang lebih mengedepankan kepintaran, kekuatan dan popularitas atau elektabilitas mereka...
Dan bagaimana seorang Ir. Joko Widodo dapat di katakan setara dengan mereka yang mampu memahami dengan jelas, apa yang ingin dan harus ia capai; mengetahui dengan tepat apa yang mesti ia lakukan untuk mencapainya; dan memiliki keterampilan untuk mengatur pelaksanaannya?
Sama seperti Soekarno yang berhati-hati dalam menemukan rumusan Pancasila, memikirkan dengan seksama dan melakukan PERENUNGAN seraya ia di tuntut menghasilkan sebuah rumusan baru bagi perjalanan masa depan bangsanya, seperti Mahatma Gandhi yang melakukan meditasi sebelum mengeluarkan kebijakan-kebijakan krusial bagi negaranya, seperti Mahmoud Ahmadinejad dari Iran yang merenung sebelum memutuskan harus "turun" menyentuh kehidupan rakyatnya dengan kesederhanaan penuh, seperti Mark Rutte (Perdana Menteri Belanda) yang mampu bersikap legowo dan meminta maaf langsung, bersedia memberikan kompensasi atas terbunuhnya 430 rakyat Indonesia yang dibantai oleh tentara Belanda pada tahun 1947 dalam revolusi di Rawa Gede, seperti Fernando Lugo dari Paraguay yang karena merenung, terinspirasi oleh Pancasila dan Presiden Soekarno sehingga ia menjalankan roda pemerintahnya demi tujuan kesejahteraan kaum papa di negaranya. Ir. Joko Widodo adalah Pemimpin yang suka merenung...bukan Pemimpin yang "grasa-grusu"...
Renungan yang seringkali di lakukan (pose pose di atas menggambarkan kondisi mental mereka saat melakukan hal itu), membuat para pemimpin sejati punya sikap mental seorang pelayan. Punya motivasi seorang abdi. Bersikap dan bertindak bak seorang hamba.
Senada dengan hal ini,dalam bukunya "THE MAKING OF A LEADER", Frank Mendoza juga menulis bahwa salah satu unsur yang paling esensial dalam memimpin...benar benar memimpin adalah kemampuan MELAYANI.
Mungkin bila anda terinspirasi oleh para politisi seperti Fahri Hamzah, Fadli Zon atau akedemisi seperti Rocky Gerung, anda akan membantah dengan mengatakan..."Jokowi tidak seperti itu!!! Ia memiliki power,,kekuasaan dan banyak perangkat untuk menjalankan kebijakannya sebagai hasil dari renungannya."
Tapi coba jawab satu pertanyaan saja :
Siapa yang mau bekerja, berjerih lelah, berupaya keras tapi tidak membalas satu katapun ketika ia di hina, di caci maki oleh mereka yang untuk siapa ia selalu bekerja dan punya tujuan?????? Bukankah hanya PELAYAN?? PEMBANTU???ABDI?? HAMBA??? Pelayan, pembantu, abdi dan pelayan ini merasa tidak berhak membalas satu katapun cacian dan hinaan dari majikan mereka meski mereka sudah bekerja keras bukan??? Biasanya yang justru bereaksi adalah, anggota keluarga lain, tetangga atau mungkin LSM bukan??
Tidak....!!! Sejarah membuktikan para pemimpin dunia di kenang dan di sanjung karena mampu memahami dengan jelas, apa yang ingin dan harus ia capai; mengetahui dengan tepat apa yang mesti ia lakukan untuk mencapainya; dan memiliki keterampilan untuk mengatur pelaksanaannya... Sebaliknya mereka yang gagal dan belakangan di kutuk oleh rakyatnya adalah mereka yang lebih mengedepankan kepintaran, kekuatan dan popularitas atau elektabilitas mereka...
Dan bagaimana seorang Ir. Joko Widodo dapat di katakan setara dengan mereka yang mampu memahami dengan jelas, apa yang ingin dan harus ia capai; mengetahui dengan tepat apa yang mesti ia lakukan untuk mencapainya; dan memiliki keterampilan untuk mengatur pelaksanaannya?
Sama seperti Soekarno yang berhati-hati dalam menemukan rumusan Pancasila, memikirkan dengan seksama dan melakukan PERENUNGAN seraya ia di tuntut menghasilkan sebuah rumusan baru bagi perjalanan masa depan bangsanya, seperti Mahatma Gandhi yang melakukan meditasi sebelum mengeluarkan kebijakan-kebijakan krusial bagi negaranya, seperti Mahmoud Ahmadinejad dari Iran yang merenung sebelum memutuskan harus "turun" menyentuh kehidupan rakyatnya dengan kesederhanaan penuh, seperti Mark Rutte (Perdana Menteri Belanda) yang mampu bersikap legowo dan meminta maaf langsung, bersedia memberikan kompensasi atas terbunuhnya 430 rakyat Indonesia yang dibantai oleh tentara Belanda pada tahun 1947 dalam revolusi di Rawa Gede, seperti Fernando Lugo dari Paraguay yang karena merenung, terinspirasi oleh Pancasila dan Presiden Soekarno sehingga ia menjalankan roda pemerintahnya demi tujuan kesejahteraan kaum papa di negaranya. Ir. Joko Widodo adalah Pemimpin yang suka merenung...bukan Pemimpin yang "grasa-grusu"...
Renungan yang seringkali di lakukan (pose pose di atas menggambarkan kondisi mental mereka saat melakukan hal itu), membuat para pemimpin sejati punya sikap mental seorang pelayan. Punya motivasi seorang abdi. Bersikap dan bertindak bak seorang hamba.
Senada dengan hal ini,dalam bukunya "THE MAKING OF A LEADER", Frank Mendoza juga menulis bahwa salah satu unsur yang paling esensial dalam memimpin...benar benar memimpin adalah kemampuan MELAYANI.
Mungkin bila anda terinspirasi oleh para politisi seperti Fahri Hamzah, Fadli Zon atau akedemisi seperti Rocky Gerung, anda akan membantah dengan mengatakan..."Jokowi tidak seperti itu!!! Ia memiliki power,,kekuasaan dan banyak perangkat untuk menjalankan kebijakannya sebagai hasil dari renungannya."
Tapi coba jawab satu pertanyaan saja :
Siapa yang mau bekerja, berjerih lelah, berupaya keras tapi tidak membalas satu katapun ketika ia di hina, di caci maki oleh mereka yang untuk siapa ia selalu bekerja dan punya tujuan?????? Bukankah hanya PELAYAN?? PEMBANTU???ABDI?? HAMBA??? Pelayan, pembantu, abdi dan pelayan ini merasa tidak berhak membalas satu katapun cacian dan hinaan dari majikan mereka meski mereka sudah bekerja keras bukan??? Biasanya yang justru bereaksi adalah, anggota keluarga lain, tetangga atau mungkin LSM bukan??
Ayolah anak-anak bangsaku...Kalian mau kampret atau cebong...Sadarlah.....

Komentar
Posting Komentar