AWAL DAN ALASAN MASYARAKAT BATAK SI PALE BEGU DI TUDUH SEBAGAI MASYARAKAT SI PELE BEGU
IMAN YANG MENDISKREDITKAN IMAN
Tak dapat di pungkiri, dewasa ini generasi muda batak telah terpecah menjadi tiga golongan yang solid dan sulit terbantahkan keyakinannya. Pertama adalah golongan PATRIARKHIS, mereka yang masih memegang teguh nilai nilai adat dan budaya batak, mempelajari dan mengamalkannya dalam semua sendi kehidupan mereka. Golongan ini terbilang sangat sedikit. Yang kedua adalah golongan INTELEKTUALIS, mereka yang masih mengikuti tatanan adat dan budaya batak namun hanya sebagai rutinitas belaka karena golongan ini sangat di pengaruhi alam fikirannya oleh golongan ketiga yaitu golongan AGAMIS. Golongan ini biasanya muncul dari generasi yang kemudian menjadi sangat religius secara ekstrim-biasanya karena menemukan keyakinan baru di agama agama yang bisa di katakan telah melakukan reformasi besar besaran dalam ajarannya. Terpecahnya generasi ini seiring perkembangan zaman tanpa di sadari, telah membuat adat batak terpinggirkan arti dan nilainya karena di pahami hanya sebagai identitas dan peneguhan silsilah belaka. Mengapa? Gerakan masif dan penyebaran keyakinan baru dari golongan ketiga seringkali telah mendiskreditkan upacara upacara, detail dari adat batak itu dengan berusaha meyakinkan khalayak ramai melalui cerita sejarah animisme di masyarakat primitif batak dahulu kala, bahwa hampir semuanya dipengaruhi oleh keyakinan mistis dari animisme tersebut. Meskipun sejatinya tidak semua generasi muda batak percaya sepenuhnya dan memakan informasi dan presentasi tidak langsung ini, sedikit banyak harus di akui bahwa hal ini memang telah menghambat generasi muda me-respek adat dan budaya nya sendiri, dan karena itu mempersulit dan menghilangkan minat mereka mempelajari apalagi memegang teguh nilai nilai luhur dari adat batak itu sendiri. Meskipun sejatinya ritual adat batak itu sangat erat kaitannya dengan penyembahan kepada TUHAN YANG Maha Esa, namun gelombang indoktrinasi massif ini kemudian membajiri dan memaksa masyarakat berfikir bahwa setiap detail unsur-unsur dari adat itu berasal dari ke-kafiran dan sangat bertentangan dengan iman Kristiani. Isu politisasi agama dan keyakinan (iman) ini bukanlah sebuah barang baru lagi di bumi pertiwi ini. Sejak
zaman pra-penjajahan .Hal Ini justru sudah merupakan alasan Belanda pertama kali mengirimkan tim zending keagamaan yang akhirnya di ikuti oleh sepasukan penjaga
dan pada akhirnya membentuk sebuah pemerintahan kolonialisme.
Pelesetan kata
masyarakat “sipale begu” yang sebenarnya berarti masyarakat “pengusir hantu” (Bahasa Inggris Ghost Buster;red) di ganti dalam laporan Gubernur Jenderal pada saat itu menjadi masyarakat “Sipele Begu” dan fitnah ini terus di sematkan turun temurun justru oleh masyarakat Batak sendiri sampai sekarang. Hal ini dapat di gambarkan seolah sebagai Gerakan pelemahan keyakinan (Iman) dengan bentuk keyakinan (Iman) yang baru melalui cara yang menyudutkan dan mendiskreditkan sejarah.

Komentar
Posting Komentar