Surat Terbuka Generasi Muda Batak Pada Para Sesepuh
"Adat Batak Di Mata Generasi Muda"
Dear Bapak/ Tulang/Amangboru/Ompung..
Memahami adat batak, memang sering kali menjadi sangat sulit ketika berbenturan dengan sifat dan karakter dari setiap pelaku adat batak itu sendiri. Hal ini menjadi semakin sulit lagi bila harus di aplikasikan di daerah perantauan dimana gaung Trend Social Movement lebih terasa.
Benturan kepentingan para pelaku, minim nya pengetahuan, dan kesadaran akan adat, seringkali membuat adat itu sendiri, justru bagai menjadi momok yang menakutkan untuk di pelajari dan di pahami oleh generasi muda saat ini.
Namun menilik sejarah terciptanya, sesungguhnya kami sadar. adat batak itu sebenarnya di ciptakan, di design, di rekayasa untuk membuat para pelakunya terutama mereka yang bertalian darah secara langsung terlindung dari perpecahan, pertikaian, bahkan permusuhan.
Sayangnya, berbeda dengan tradisi tradisi suku lain di Indonesia, adat batak kurang di re generasi, kecuali hanya pada acara acara tertentu, yang biasanya justru banyak di hindari oleh kaum muda dewasa ini.
Sebut saja salah satu dasar dari filosofi adat batak itu sendiri seperti Dalihan Na Tolu yang isinya : Somba Marhula hula hula, Elek Marboru, Manat Mardongan Tubu.(Hormat pada Hula Hula; anak lelaki pada keluarga, Membujuk pada Boru; anak perempuan pada keluarga, Hati hati kepada Dongan Tubu; Sesama anak lelaki pada keluarga)
Tiga dasar filosofi ini bagai kaki dari sebuah tungku masak, yang jelas akan merusak proses masaknya apabila satu saja dari ketiga kakinya tidak berfungsi.
Setiap anak lelaki sebuah keluarga tentu saja juga akan menjadi Boru/anak perempuan dikeluarga istrinya, dan setiap boru/anak perempuan juga akan menikmati menjadi anak lelaki di keluarga suaminya, sehingga pengaturan adat tentang Anak & Boru ini, kami tahu sebenarnya tidak perlu di gugat fungsinya sepanjang di lakoni persis seperti filosofi Dalihan Na Tolu atau 3 kaki tungku masak.
Sebagai generasi muda diperantauan, kami sangat mengharapkan adanya keperdulian dari para sesepuh adat di masing masing keluarga dalam memberikan edukasi seperti ini, sehingga pada saat di aplikasikan dalam kehidupan keluarga tidak akan menimbulkan pergesekan/friksi, kesalah pahaman, pertingkaian bahkan permusuhan.
Sikap legowo dan kharisma yang di miliki para sesepuh sangat kami butuhkan untuk bisa memahami lebih dalam apa yang di rancang Raja Raja Adat pada zaman dahulu.
Bapak/ Tulang/ Amangboru/ Ompung...
Maaf kalau cara kami meminta terlalu ke-kinian dan terlalu formalitas..
Terima kasih sebelumnya karena sudah di dengarkan..
Hormat Kami
Generasi Muda Batak

Komentar
Posting Komentar