IKUTI ZAMANMU - JANGAN TINGGALKAN BUDAYAMU






Berangkat dari keresahan, kegelisahan dan mungkin kegusaran akibat pernyataan Gubernur Sumatera Utara terkait Peraturan Daerah (PERDA) mengenai wisata halal di kawasan wisata Danau Toba, berbagai opini dan reaksi kemudian muncul. Sebagian besar menolak gagasan ini. Alasan nya :



Aturan ini telah menggugat rasa kebathinan yang di miliki masyarakat di sekitar kawasan ini khusus nya suku Batak Toba sehubungan dengan budaya dan adat istiadat yang sudah berurat berakar selama berabad-abad. Tentu saja ini bisa di terima dan dapat di mengerti bila di tinjau dari pandangan sosial karena para pembicara dari kelompok Anti-Perda ini yakin bahwa budaya dan adat batak jauh lebih penting untuk di perjuangkan dari pada sekedar persoalan penjualan parawisata di kawasan ini.


Beberapa bahkan kemudian membandingkan budaya yang harus diperjuangkan ini dengan apa yang sudah berjalan di pulau Bali. 

Namun mungkin pertanyaan yang cukup menggelitik adalah : Budaya yang mana yang di maksud ini? Suasana kebathinan seperti apa yang di miliki masyarakat Batak sebenarnya terhadap budaya nya sendiri?





Dalam sebuah perbincangan ringan dengan seorang tokoh seniman muda batak Hardoni Sitohang dan tokoh adat dan pegiat sosial budaya Drs. Monang Simanjuntak, keduanya menyampaikan rasa prihatin terhadap suara-suara vokal atas Perda yang di sebutkan di atas. Keduanya sependapat bahwa masyarakat Batak saat ini sebenarnya bahkan hampir kehilangan idealisme dan identitas sesungguhnya dalam aktifitas sehari-hari. Dalam beberapa meme dan pendapat umum di media sosial, bahkan di yakini bahwa tanpa di sadari "orang batak" telah menjadi seperti masyarakat yang (berpura-pura) beragama dan di waktu yang sama juga (berpura-pura) beradat dan berbudaya. Pendapat ini tentu saja menjadi lebih mengena terlebih pada saat saat seperti ini dimana (seolah olah) mereka sedang berjuang mempertahankan budaya dan adat namun pada saat yang sama memperlakukan adat saat ini dengan cara yang bertolak belakang. Cara yang di akui sebagai cara "kekinian" (modern;red). Sebagai pelaku sekaligus pemerhati budaya batak toba khususnya seni musik, Hardoni Sitohang bahkan dengan tegas menyampaikan bahwa itikad dari para tokoh masyarakat maupun pemerintah justru masih sangat minim saat ini. Dukungan penuh yang belakangan di tunjukkan Presiden ke-7 Republik ini Ir. Joko Widodo ke kawasan ini dalam bentuk kelembagaan seperti Badan Otorita Danau Toba sejak 2 tahun lalu bahkan belum berdampak apa apa terhadap perkembangan musik etnis tradisonal Batak , kesenian Batak khususnya juga kebudayaan Batak pada umumnya. Langkah langkah yang terlihat bahkan terkesan "jauh panggang dari api" bila mengacu pada harapan masyarakat maupun ekspektasi Presiden Jokowi. Dalam bidang kesenian yang muncul justru adalah proyek proyek bernilai ratusan juta (mungkin bahkan milyaran) melalui pagelaran festival festival yang anehnya justru  memperkenalkan musik etnis negara lain alih-alih mendorong dan memberikan support pada para pelaku dan pemerhati musik tradisional agar mereka berkembang secara permanen dan pada gilirannya dapat di harapkan sebagai komoditi mahal setara tarian kecak dipulau Bali misalnya. Tidak adanya langkah serius dimaksud sebenarnya telah membuat wisatawan yang datang ke kawasan ini, entah itu wisatawan manca-negara maupun wisatawan domestik hanya menikmati berwisata selama lima menit pertama. Tak ada yang harus mereka cari dan tunggu. Tak ada yang mereka bawa pulang sebagai kesan mendalam. Kecuali keindahan Danau (relatif)misalnya atau cerita singkat kekuatan batu Hobon sebagai misal yang lain. Tapi semua berjalan sangat singkat di setiap situs. Coba bandingkan dengan tari-tarian yang di tampilkan di hampir setiap objek wisata di Bali sebagai sesuatu yang di tunggu tunggu. Pertunjukan yang kini telah berkembang pesat sebagai Bisnis Pertunjukan (Showbiz) yang di gadang-gadang sebagai sumber pemasukan daerah paling besar disana saat ini, meski awalnya pasti di mulai dengan sangat sulit dahulu.



Di lapisan bawah keadaan ini setali tiga uang. Pada pesta-pesta adat batak yang harusnya berpihak pada akar budaya, yang populer justru parmusik (pemusik) berbasis elektrik jauh melebihi popularitas partaganing, parogung oloan, parsarune si tombus dolok yang dulu sangat berperan dalam perkembangan peradaban budaya batak toba. Secara menyedihkan, lagu Maumere (dari Indonesia Timur), Attenang dan Sayur Kol bahkan mulai masuk sebagai Daftar Lagu Populer saat ini di pesta-pesta adat Batak. 



Hardoni Sitohang kemudian menggambarkan keadaan ini dengan kalimat yang sangat singkat namun penuh penjelasan.

"Budaya Batak saat ini sudah semakin bergeser dari yang seharusnya sebagai Budaya Tuntunan menjadi Budaya Tontonan..."

Saat ia kemudian di tanya, "Lantas, apakah kita generasi muda Batak akan diam saja? Apakah cara kekinian mengikuti perkembangan zaman ini sepenuhnya patut di persalahkan?" Beliau menyampaikan bahwa saat ini satu pesan penting harus segera di suarakan ke atas (kepada para pejabat terkait mungkin setara Basar Simanjuntak mewakili Badan Otorita Danau Toba atau Bupati Tobasa,Samosir, Humbahas dan Kabupaten-Kabupaten lain) dan tentu saja juga ke bawah (kepada seluruh lapisan masyarakat khususnya generasi muda batak). 

Apa pesan itu?


"IKUTI ZAMANMU TAPI JANGAN TINGGALKAN BUDAYA MU"

Melalui konser tunggal yang rencananya akan di gelar oleh beliau tanggal 01 November 2019 di Toba Dream, Tebet - Jakarta Selatan, suara ini akan di dengungkan dengan lebih keras sekaligus sebagai ajakan dan himbauan pada semua lapisan. Sebagai pengganti doa pembuka konser ini rencananya akan di awali dengan khidmatnya Sipitu Gondang. 

Kalau langkah langkah keberpihakan terhadap akar budaya ini benar benar telah di laksanakan, meski itu baru selangkah saja..rasanya kita memang baru pantas berteriak, "Hei!!! Jangan ganggu budaya dan adat kami!!!"

Komentar

Postingan populer dari blog ini

AWAL DAN ALASAN MASYARAKAT BATAK SI PALE BEGU DI TUDUH SEBAGAI MASYARAKAT SI PELE BEGU

Drs. Monang Simanjuntak soal SIGAPITON: "Politik akan menjadi JALAN KESELAMATAN ketika dilakoni sebagai policy yang berkebijakan.

KRITIKAN RECEH